Proklamasi,
Kami bangsa Indonesia
dengan ini menjatakan
kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang
mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama
dan dalam tempoh
jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta
Perputaran waktu mengantarkan bangsa Indonesia
menuju gerbang kemerdekaan yang ke-69 tahun. Sayangnya, label “merdeka” yang
disandang belum sepenuhnya mendeskripsikan definisi kata “merdeka”, baik secara
etimologi maupun terminologi. Masih banyak orang di Indonesia ini yang masih
terbelenggu. Mereka masih terjajah oleh kepapahan, ketidakmampuan dan tirani
kemiskinan.
Banyak kisah mengiringi perjalanan negeri tanah
surga ini. “Tongkat kayu dan batu jadi tanaman” memang bukan semata syair
pelipur lara. Namun, semuanya itu jelas nyata dan ada. Karena Indonesia adalah
sebuah negeri subur dengan tanah gembur yang dipenuhi segala unsur pertumbuhan
dan kehidupan. Di kedalaman tanahnya pun berlumur segala macam kekayaan
sumberdaya energi dan mineral.
Indonesiaku, sebuah negeri yang memiliki
perisai panorama alam nan luar biasa, tentu memiliki daya tarik tersendiri bagi
bangsa asing untuk melirik Indonesia. Suburnya tanah yang menjanjikan
kemakmuran untuk seluruh rakyat, pastilah mampu membuat bangsa asing pun datang
berderap silih berganti mengeksploitasi negeri ini. Inilah kemudian yang
disebut sebagai era penjajahan, sebuah penjajahan atas kedaulatan suku dan
bangsa-bangsa di Nusantara.
Penjajahan pun dimulai. Perlawanan menghadapi
kebengisan penjajah berkobar dimana-mana. Budi Oetomo, sebuah tonggak
pergerakan perubahan yang pernah dikumandangkan oleh pemuda Indonesia. Sebuah
pergerakan yang mampu membangkitkan ruh dan jiwa-jija patriot bangsa untuk
menyatukan tekad dan kekuatan demi “Indonesia merdeka”. Meski imbas dari
perjuangan para leluhur adalah penyiksaan, penindasan, bahkan berakhir dengan
tetesan darah dan hilangnya nyawa, pekik “merdeka” terlanjur menjadi janji
nasional. Dan atas nama bangsa Indonesia, Bapak Proklamator, Soekarno-Hatta, mengumumkan
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
69
tahun sudah Indonesia merdeka, namun kulihat penjajahan itu masih saja terpatri
di negeriku Indonesia ini. Kemiskinan, kebodohan, masalah kesehatan, dan
lingkungan, adalah segelintir contoh penjajahan yang nyatanya masih terjadi di
bumi pertiwiku ini. Di momen HUT RI ini, sudah sepatutnya kita sebagai penerus
perjuangan bangsa tak hanya bersedia memperingati, mengingat perjuangan para
pahlawan kita. Hal yang paling utama adalah melanjutkan perjuangan para
pahlawan untuk mengisi kemerdekaan, kemerdekaan Indonesia.
69 tahun bukanlah waktu yang pendek bagi kita menyatakan
dan merayakan kemerdekaan. Apabila 17 Agustus 1945 Soekarno dkk telah
menyatakan kemerdekaan dari berbagai penjajahan fisik bangsa lain, maka 17
Agustus 2014 hari ini kita juga harus menyatakan kemerdekaan diri kita dari
berbagai penjajahan fisik dan rohani akibat perbuatan-perbuatan atau pun
perkataan-perkataan yang melukai dan menciderai makna terdalam kemerdekaan itu.
HUT ke-69, hendaknya rahim Ibu Pertiwi ini bisa
melahirkan para pemimpin publik yang mampu memberikan kontribusi bagi rakyat
seluruh Indonesia tanpa diskriminasi apa pun bentuknya. Tak seharusnya, rahim
Kemerdekaan Ibu Pertiwi tergores oleh perilaku sebagian anaknya yang kurang
menghargai keberaragaman yang akhirnya menjajah bangsa ini sendiri. Wahai
pemuda, ingatlah pesan Bung Karno, “Wahai anakku, perjuanganmu akan lebih berat
karena menghadapi wargamu sendiri, sementara kami berjuang melawan penjajahan
dari bangsa lain”.
Biarlah
yang lahir tumbuh menjadi pewaris yang baik untuk kita nantinya, dan yang pergi
biarlah tenang disisi Tuhan Yang Maha Esa. Tinggal kita di sini, para otot-otot
dan otak segar. Pemuda, calon pemimpin dan nahkoda untuk Indonesia dimasa
depan. Kita ada di setiap penjuru negeri ini, kita mengetahui bagaimana cara
menghormati bangsa ini. Kita yang nantinya akan bergerak maju tanpa menyerah,
dimana bangsa ini menggantungkan setiap harapan mereka dalam langkah kaki kita.
Memang Merdeka sebuah kata yang indah dan mudah
diucapkan dan diulang secara terus menerus. Namun tidaklah terlalu mudah untuk
diimplementasikan secara konsisten dan bertanggungjawab. Untuk itu momen
Merdeka 69 memanggil kita semua merenung serta merefleksikan secara lebih baik
agar bisa diterapkan secara tepat bagi kejayaaan Indonesia. Berat tetapi bukan
berarti tidak bisa dilakukan.
Oleh karena itulah, hari ini, tak perlulah kita menyingsingkan lengan, mengangkat
senjata, ataupun berperang secara fisik bertumpahkan darah. Banyak hal yang
bisa kita lakukan untuk melanjutkan cita-cita pahlawan dalam mewujudkan
Indonesia merdeka, merdeka yang tak sebatas retorika.
Merdekalah Indonesiaku, merdekalah dalam NKRI,
Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. Terimakasih pahlawanku. Akan ku
pastikan, perjuanganmu tak akan hanya berujung pada nostalgia semata, namun goresan
tinta perjuangan yang telah engkau torehkan akan senantiasa menjadi
pembelajaran perjuangan dan semangat juang bagi kami untuk membawa perubahan
untuk membangun bangsa ini. Karena kami adalah putra-putri Indonesia, generasi
emas pembawa perubahan bagi Indoenesia. Inilah janji kami padamu, Indonesia!
Dirgahayu Indonesia, Merdeka!
Surakarta,
17 Agustus 2014
23:57
Cos Ma’arif H. L
Comments
Post a Comment