Skip to main content

Posts

Showing posts with the label PUISI

Menjauh untuk Menjaga

Menjauh untuk menjaga. Kau tahu, sejujurnya aku benci konsep itu. Terlalu menyedihkan. Seperti perumpamaan klasik tentang matahari yang mencintai bumi dengan jaraknya. Terdengar tegar dan dewasa memang, tapi tetap saja menyedihkan. Aku mulai “ mengira ” , barangkali analogi itu cuma pembenaran teoritis atas tragedi ketidakmampuan mencintai—dengan alasan apapun. Atau boleh jadi semacam legitimasi bagi sebuah kerapuhan jiwa. Apa yang bisa diharapkan, dari sebuah cinta yang bahkan oleh himpitan jarak saja ia jadi tak berdaya? Apa yang bisa dibanggakan, dari cinta yang dengan segala macam pembenarannya menyerah pada sebuah keterpisahan, pasrah pada ketakberdayaan, sementara seluruh penjuru dunia memuja kedigdayaannya dengan kalimat ‘ Amour Vincit Omnia ’ ? Kalau saja  matahari, memang mencintai bumi. Dengan abadinya keberjarakan yang ditakdirkan pada mereka, mestinya telah redam bara yang ia punya. Terendam oleh air matanya sendiri. Seperti Qais yang cintanya tak pern...

Lorong Koridor Gedung Ungu

Masih di lorong koridor gedung ungu Memilih untuk mengetuk hati, Sedikit mencerca, bahkan mengutuk. ttg fase kotak tak petak, juga tak penat, Sst.. Lihat... Garis garis yang bersilang, dibawah tapak mengabarkan tentang takdir dan titik-titiknya. Titik temu yang tak tahu, Karena, tugas si peraba mimpi memang untuk meniti tekun, juga mengulum komitmen, Masih di lorong koridor gedung ungu, Dengan Pundak hancur di tembok. tembok putih yang tak pernah bergeming, masih sama: dingin dan kaku. Menopang dan menggugu. Seperti realita dan derak nyata kerajaan lautan Yang menggulung, tanpa koma, Masih di lorong koridor gedung ungu, tiba tiba.... Kulihat dia yang entah kapan ia tiba membuat kilat pandangan tak ubahnya jadiiii... haha... sudahlah.... Masih di lorong koridor gedung ungu selalu saja hanya bisa menatap ragu baiklahh.. perlahan ku coba mengalun langkah dan meninggalkan sebelum gaduh degub terdengar lebih meruah #Lelah... #AMT, SPN,...

Entah....

Aku tak tahu, bagaimana pena ini mengisahkan akhir ceritanya Kita, tak hanya aku dan kau, namun juga dia Kita sama-sama terperangkap dalam satu sekte yang sama Sama-sama menerka akan sebuah tanya, yang kita sendiri pun tak tahu harus mencari jawaban itu dimana.  Mungkin hanya waktu yang mampu menguak pertanyaan-pertanyaan klasik itu   Namun sampai kapan waktu terus merahasiakan kisahnya? Sementara aku harus menunggu disini, menyembunyikan luka atas nama ukhuwah, atau apalah itu namanya. Surakarta, 24 Mei 2015   23:43 PM Cos Ma’arif H. L