Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Renungan

KEPUTUSAN RADIKAL

Memang Allah Ta'ala, Dzat yang maha membolak-balikkan hati. Dan Memang manusia, yang kadang (atau sering?) rapuh dalam menjaga komitmen. Yaa.. benar saja.. Kau tahu? Baru saja telah terjadi hal paling radikal disepanjang amandemen proposal hidup gue.. yang tentu saja lahir dari sebuah kontemplasi yang panjang..menghapus salah satu mimpi yang sedari dulu sungguh kuat ubtuk diperjuangkan.. menjadi seorang Mentri RI.. hohoho…   Sejak dari SD, SMP, SMA.. Ingin sekali menjadi Mentri Kesehatan RI, tentu saja dengan sematan gelar dr. dan diiringi dgn SpB. Haha…masih ingat betul, betapa mati-matian aku memperjuangkannya, bahkan sampai di sebuah titik yang memang mengharuskan aku untuk menghentikan langkah dan melanjutkanya dalam persimpangan jalan yang lain.  Seperti yang pernah aku katakan, waktu adalah mesin penggilas terbaik, begitu juga untuk menggilas mimpi. Menjadi bagian dari mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan, perlahan demi perlahan, ternyata mampu memu...

Dari Cinta Aku Terbina, dengan Cinta Aku Membina

Hidupnya suatu pergerakan bukanlah sebuah keberhasilan individual   Tugas kita adalah menata peradaban, bukan bermain bersama mesin dan buruh organisasi, karena mereka memiliki hati, mereka memiliki akal. Sebesar apapun suatu bangsa, tak akan menjadi bangsa yang besar tanpa adanya nahkoda pemegang kendali kapal pemerintahan yang tepat. Bagaikan negeri dengan hamparan tanah yang kering, tak akan hijau tanpa sebuah kesejukan kekeluargaan. Layaknya pohon tinggi berakar lapuk, akan mudah roboh oleh angin masalah. Maka, harmonisasi pergerakan haruslah memiliki sinergisitas yang kuat. Bukan hanya sinergis dalam orasi kampanye diawal, namun juga sinergis dalam penjagaan sebuah amanah yang terbentuk sejak.....   selama.....   dan hingga akhir.....   amanah itu diemban..... yang tercermin dalam sebuah kaderisasi.......... #POSDM BEM FKIP UNS #Totalitas Pendidikan #Pembinaan Pembinaan Surakarta, 23 Juli 2015 01:31 ...

Aku Malu Dipanggil Aktivis

Aku malu saat kau memanggilku dengan sebutan “Aktivis”. Karena bisa jadi amal baik mu lebih banyak dari pada amalku. Aku malu saat kau memanggilku dengan sebutan itu. Karena bisa jadi keikhlasanmu lebih mendalam dari pada diriku Aku malu sangat malu saat kau memanggilku dengan sebutan Aktivis yang hebat. Karena bisa jadi kedudukan engkau lebih mulia di hadapan Allah. Siapa yang tahu tentang hati ini? Bukankah yang mengetahui hanyalah diri sendiri dan Allah semata? Aku sungguh sangat malu, engkau memanggilku dengan sebutan “aktivis” ketika bacaan Qur’an ku masih terbata-bata dan belum baik. Apalagi dengan hafalan Qur’an ku? Tahsin saja aku masih menunda-nunda. Apalagi untuk tingkat Tahfizh? Aku merasa tidak pantas, ketika engkau menyebutku dengan sebutan “aktivis” yang sering pulang larut malam karena banyak agenda dakwah disana-sini. Hingga tak jarang aku membiarkan Mushaf itu hanya bergeletakan di atas meja kerjaku. Atau bahkan hanya ku simpan di dalam tas ku tanpa sese...

Berbicaralah Duhai Hati

Jika terkadang tegasmu dalam menyampaikan makna mampu mengikat puluhan pasang mata, namun belum tentu ia mampu memahamkan sebuah makna pada sebuah hati.  Jika terkadang nada tinggimu mampu menyontak puluhan   raga, namun belum tentu ia bisa menggetarkan sebuah hati. Jika terkadang suara lantangmu mampu memanggil ribuan jiwa, namun belum tentu ia mampu merangkul sebuah hati. Maka, getarkan hati dengan hati. Lirihkan suaramu, sampaikan perlahan hingga ia terpaut tepat pada hati yang tengah   mendengar.  Tak selamanya tegas itu menjadi kunci pada pintu hati yang tertutup rapat. Tak selamanya berdiri dengan suara yang lantang itu mampu memahamkan. Bahkan tak selamanya lantangnya suara dan tingginya frekuensi nada mampu mengajak pada sebuah perenungan, mencari lorong untuk berjalan keluar.  Hati hanya ingin hal yang sederhana. Tak perlu berdiri, mungkin duduk bersama akan lebih bermakna. Tak perlu nada yang tinggi, lirih justru lebih mampu mem...

TITIK

Dear, my self… Mungkin suatu saat kau akan berjumpa.. bertemu dengan sebuah titik tepat dimana kamu akan sejenak tertahan untuk tertawa. Merenungi tentang semua yang sudah kamu lakukan. Ah.. apa ini semua hanya sebuah kesia-siaan? Kamu berjalan, beraktivitas, berlari, terjatuh dan bangkit.. Kamu tersenyum, menangis, tertahan, dan kecewa.. Kamu terkantuk, mengaduh, berpeluh atau bermanja Lantas semua itu untuk apa? Apa iya selama ini berdiri untuk sekedar bertahan? Atau sebatas mencari sebuah sematan untuk pengiring nama? Atau memang semua dilakukan dengan kesadaran? Hmm.. Memilih menjadi kamu?? ikhlas menyatu dengan sekumpulan, mencoba mengambil bagian, dan rela menerima setiap konsekuensi? Benar ikhlas?? atau memang karena tak ada pilihan? Hahaha.. ayo tertawa, (atau mungkin menangis?) tentang semua yang mengair karena kau baru sadar sejauh ini hanya kebetulan Lagi-lagi.. "Let it flow".. itu-itu saja yang kau katakana. Tidakkah ada kata la...