Apakah kita masih ingat, bahwa dalam setiap keping uang yang kita banggakan ada hak orang lain? Berawal dari cerita yang tlah lama ku tahu dari seorang kawan.. Hari ini benar-benar ku saksikan sosok itu. Sosok kakek yang menyambung hidup lewat kantong-kantong kacang rebus yang ia jual di pinggir jalan. Berhadapan langsung dengan aspal yang sejajar dengan tempat ia duduk. Beratap pohon rindang saja. Mungkin bisa dibilang ia seperti orang yang kurang kerjaan. Ia gelar dagangannya pada selembar karung beras yang sudah using dan ditatapnya kantong-kantong kacang itu sembari jongkok layaknya seorang peminta. Tidak banyak yang ia jual, mungkin hanya tiga puluha-an kantong saja dengan harga 2000 rupiah per kantongnya. Saat ku coba mendekatinya, dia bilang “tumbas limo (beli lima)?” Kulihat, ada harapan besar yang memanjar dari mata rabunnya. Saat ku iya-kan entah apa yang berbuncah dalam hatinya. Tapi perasaan itu dapat aku rasakan. Rasa syukur dalam mulut yang telah rontok seba...
Merangkai Kata, Membingkai Makna