Aku malu saat kau memanggilku dengan sebutan “Aktivis”. Karena bisa jadi amal baik mu lebih banyak dari pada amalku. Aku malu saat kau memanggilku dengan sebutan itu. Karena bisa jadi keikhlasanmu lebih mendalam dari pada diriku Aku malu sangat malu saat kau memanggilku dengan sebutan Aktivis yang hebat. Karena bisa jadi kedudukan engkau lebih mulia di hadapan Allah. Siapa yang tahu tentang hati ini? Bukankah yang mengetahui hanyalah diri sendiri dan Allah semata? Aku sungguh sangat malu, engkau memanggilku dengan sebutan “aktivis” ketika bacaan Qur’an ku masih terbata-bata dan belum baik. Apalagi dengan hafalan Qur’an ku? Tahsin saja aku masih menunda-nunda. Apalagi untuk tingkat Tahfizh? Aku merasa tidak pantas, ketika engkau menyebutku dengan sebutan “aktivis” yang sering pulang larut malam karena banyak agenda dakwah disana-sini. Hingga tak jarang aku membiarkan Mushaf itu hanya bergeletakan di atas meja kerjaku. Atau bahkan hanya ku simpan di dalam tas ku tanpa sese...
Merangkai Kata, Membingkai Makna