Skip to main content

Posts

Sudah berapa lama??? Entahlah....

Sudah berapa lama tidak menulis lagi di sudut itu? Terlebih semenjak akhir penghujung tahun lalu hingga akhir pekan ini.. Terlalu banyak yang harus diselesaikan di luar sana..    Jangankan untuk mengahabiskan malam dengan merangkai kata, duduk bersantai untuk sekedar membaca buku disudut itu saja menjadi suatu hal yang sangat sangat dirindukan.. Memang... selalu perlu momentum untuk memulai mengeja kata..   Dan nyatanya, momentum tidak hanya perkara waktu, namun juga apa yang tengah dirasakan hati.. Ketika sang waktu dan hati telah terpaut, jangan heran... jika aku mampu menggilas jutaan detik di sudut itu.    Namun.... B iar b agaimanapun...  R indu slalu datang mengingatkan..   Bahwa diantara setumpuk deadline, "kau" tetap menjadi bagian dari perasaan :)        Surakarta, 16 Januari  2016 20:21 Cos Ma’arif H. L  

Finally... I did it!!! ^_^

Aku suka gunung....    Melihat cantiknya matahari dan jingganya yang malu-malu...                             Bermain bersama angin, menyapa si permadani hijau, menapak batunya, serta merengkuh sejuknya...                                   Selain pantai, ternyata gunung juga bisa menjadi tempat terbaik untuk bercerita tentang rindu dan impian...   Penat terlepas menjadi untaian sajak..   Ragu terlepas menjadi cita.. Bisik hati menjelma sebagai angin pengantar pesan..     Bahwa bersama kalian, menikmati lelah dalam pendakian menuju puncak menjadi awal catatan pengantar tahun terbaik untuk 360 episode mendatang.                     ...

#SatukanLangkah.. Kau juga Peduli bukan?

Perkenalkan, namaku adalah Indonesia. Dengan bangga, akan ku perkenalkan apa yang menjadi harta paling berharga dalam dirku. Darinya, akan selalu ada harapan baru untuk ku menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari. Darinya, akan selalu ada masa depan yang yang tak akan pernah redup untuk diperjuangkan. Kau tau apa itu??? Ya.. Kau boleh menyebutnya “Pemuda”. Dan jika kau suka, kau juga boleh memanggilnya “Mahasiswa”. Namun sayang, orang bilang, kini semangat Pemuda ku semakin layu. Kiprahnya tak sehebat waktu itu. Tak seperti Soekarno, sang singa podium. Dimana pada setiap orasinya, setiap untaian kata yang disuarakan, tak hanya membakar semangat, tapi juga bisa memberikan sugesti yang mampu tertanam dalam jiwa dan sanubari setiap jiwa yang mendengarnya. Tak seperti Hatta, sang proklamator Indonesia. Jujur, lugu, dan bijaksana. Namun selalu ada bakti yang tak pernah habis diberikan untuk negerinya tercinta. Tak seperti Habibie, sang cendikiawan muda. Diman...