Skip to main content

Posts

Miss You So Bad )':

Dan akhirnya, kau pun tumbang juga. Maafkan aku yang terlalu memaksamu terlalu keras. Menyita setiap waktu istrirahatmu untuk menemaniku. Menemaniku mengerjakan tugas yang entah kapan akan berakhir, mengantarkanku dalam setiap episode pencapaian impian, menemani muroja’ah ku dengan murrotalnya Mohammad Thoha Al Junayd, dan jugaaa.. menemaniku mencurahkan semua apa yang kurasa, menuliskan aforisma tak beralamat tentang dia. Padahal kau tahu?? Hari ini aku sangat amat ingin menuli tentang dia. Ada pesan special untuknya yang telah aku buat seminggu yang lalu, yang harusnya ku posting malam ini. Ahh.. lagi-lagi, semua ini salahku yaa?? Maafkan akuu…  Dan sekarang, untuk beberapa hari mungkin kita memerlukan jarak. Sejenak berpisah mungkin aku lebih baik. Tapiii… aku rinduuu. Lalu, hendak kemana aku mencurahkan semua yang kurasakan. Bersama siapa aku menghabiskan setiap malam untuk mengabadikan cerita sang rembulan yang selalu menyimpan hikmah kehidupan. Ahh.. Aku rinduu… ...

Berbicaralah Duhai Hati

Jika terkadang tegasmu dalam menyampaikan makna mampu mengikat puluhan pasang mata, namun belum tentu ia mampu memahamkan sebuah makna pada sebuah hati.  Jika terkadang nada tinggimu mampu menyontak puluhan   raga, namun belum tentu ia bisa menggetarkan sebuah hati. Jika terkadang suara lantangmu mampu memanggil ribuan jiwa, namun belum tentu ia mampu merangkul sebuah hati. Maka, getarkan hati dengan hati. Lirihkan suaramu, sampaikan perlahan hingga ia terpaut tepat pada hati yang tengah   mendengar.  Tak selamanya tegas itu menjadi kunci pada pintu hati yang tertutup rapat. Tak selamanya berdiri dengan suara yang lantang itu mampu memahamkan. Bahkan tak selamanya lantangnya suara dan tingginya frekuensi nada mampu mengajak pada sebuah perenungan, mencari lorong untuk berjalan keluar.  Hati hanya ingin hal yang sederhana. Tak perlu berdiri, mungkin duduk bersama akan lebih bermakna. Tak perlu nada yang tinggi, lirih justru lebih mampu mem...

Mencintai Aku

Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau akan tahu Bahwa tak semua rindu harus diucapkan  Bahwa cinta tak selamanya harus diungkapkan Nyatanya, hadirmu di koridor kampus yang sebentar mampu menciptakan tulisan berlembar-lembar Karena itu caraku meredam rindu yang tak mau diam Mencintai perempuan yang gemar menulis Bagaimana pun sikapmu Namamu akan selalu ada di mana ia menggoreskan penanya, cek saja Dalam setiap goresan pikirannya Ya, kau akan abadi Baginya kau abadi Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau harusnya rajin membaca Karena seringkali, diamnya adalah alat Dari sana kau tahu Bahwa sesungguhnya ia gemar berkata Hanya saja, bukan lewat ucapannya  Mencintai perempuan yang gemar menulis Kau harus berhati-hati Karena bila kau membuatnya sakit hati Kau akan terkejut Betapa tulisannya lebih dari sekedar mengiris nurani Ia bisa membuatmu sekejap ‘mati’ Mencintai perempuan yang gemar menulis setiap tetes tinta...

Yaa Muqollibal Qulub, Tsabit Qolbii 'ala Diinik

Ya, Rabb.. Bersama senja, Kau ketuk lagi hati ini. Hati yang tengah mencari arti dalam jalan yang sunyi. Kau getarkan kembali hati ini, ketika ia tengah nyaris mati tak berdetak. Kau hadirkan lagi memori itu, saat kami berada pada satu garis perjuangan yang sama. Kau ingatkan kembali pada sebuah janji yang sempat teruntai bersama tangis air mata dan doa. Yaa, Rabb. Tanpa kusampaikan lewat barisan kata pun, aku yakin, Kau mengerti apa yang ditanyakan oleh segumpal daging yang ada didalam raga ini. Aku mencintai Mu, namun bagaimana dengan ridho orang tua ku? Hendak kemana aku mencari jawaban atas kegelisahn hati ini? Aku ingin berjalan dijalan Mu. Sungguh, benar-benar ingin… Namun sungguh, aku tak tahu, hendak ku langkahkan pada persimpangn jalan yang mana langkah kaki ini. Aku hanya takut, aku salah dalam mengambil keputusan. Ketika jalan ini kau buka dengan lapang untuk menjadi jalanku untuk lebih mudah menggapai cintaMu, justru aku sia-siakan dan tutup rapat karena ketidaktah...