Skip to main content

Posts

Jangan Main-main, Ini Masalah Cinta

“Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan” ―   Salim A. Fillah ― Ya, kalau kita berbicara tentang cinta, topik pasti akan menjadi hal yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Apalagi buat kita-kita yang memang telah mendekati masanya untuk mengerti arti cinta lebih dalam. Terlebih lagi untuk anak muda yang saat ini stastusnya sedang “Jomblo”, entah ngakunya jomblo karena Allah atau memang jomblo karena keadaan. Tapi diluar itu semua, virus merah jambu ini adalah virus yang paling sering menjangkit siapapun, terlebih anak muda yang ngakunya sering galau. Haha.. Ngomong-ngomong soal galau, hayoo, siapa yang disini suka galau? Biasanya nih, orang galau itu sukanya baca novel yang berbau cinta-cintaan, nge-play lagu yang mellow-mellow, stalking fb atau blog orang-orang yang dianggapnya keren, cari temen curhat yang senasib sepenanggungan (biasanya juga, temen curhatnya orang gala...

Nasihat Ayah

Malam ini, ada banyak sekali hikmah yang aku dapatkan dari perbincangan ringan ku kali ini dengan bapak. Ya, walaupun nasihat ini kerap sekali beliau sampikan, namun tiap kali beliau menyampaikannya (lagi), ada getaran yang selalu mengingatkanku akan makna sukses yang sebenarnya. Ya, sukses dalam definisi yang bapak sampaikan sejatinya memang sederhana, namun ada makna yang tak sesederhana itu jika kita mau merenungkan.    “Mbak.. sehebat apapun karir dan bisnismu nanti.. Kamu tidak akan pernah bisa membeli surga Allah dengan semua itu… Karena surga Nya hanya bisa kau dapatkan dengan rahmat Allah SWT..” Ya, begitulah bapak memberiku nasihat, sebuah petuah yang harus kupegang teguh dan kujadikan prinsip selama aku berjuang dalam proses kehidupanku ini, sebuah nasihat yang semoga akan selalu menjadi pengingat jika aku sukses nanti.   Sebagai manusia, sejatinya kita hanya perlu berkomitmen penuh atas 4 jaminan kita, sebuah komitmen yang selalu kita ucapkan d...

Surat dari Ibu

  Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor dikampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putri kecil ibu yang lugu. Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukkanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berfikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia. Anakku, kita memang berada disatu atap,di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu nak? Ibu tak lagi melihat jiwam...