Skip to main content

Posts

My First Departure

Bismillahirrahmanirrahim… Lagi-lagi.. yang ku tahu, hari ini aku mengerti akan makna kebesaran Allah SWT. Sampi detik ini pun aku masih tidak percaya, aku dapat duduk di sebuah ruang tunggu Bandara Adi Sumarmo Jogjakarta bersama kedua team solidku, Ahmad Syawaludin dan Amalia Ulfah. Yaap, dua jam lagi, mimpi itu akan menjadi nyata, pergi keluar Jawa untuk sebuah pencapaian impian. Oke, sembari menunggu penerbangan perdanaku, mungkin lebih baik aku membuka memori beberapa jam yang lalu untuk sekedar ku abadikan dalam sebuah catatan ini. Ya, pagi ini, Kamis, 19 Maret 2015, aku, Amal, dan Syawal siap menuju ke Tanah Daeng, Tanah Anging Mamiri, Tanah Makassar. Perjalanan ini kami awali dengan menggunakan kereta api tujuan Jogjakarta. Pukul 09.30 tadi, kami telah membeli tiket Kereta Api Sri Wedari untuk keberangkatan pukul 11.00 dengan tujuan Jogjakarta. Yaah, tapi apa boleh buat, walaupun sudah membeli tiket satu setengah jam sebelum keberangkatan, tapi kami tetap saja ...

Jantung Pendidikan Indonesia (Part Three)

Sekolah Dasar, Jantung Pendidikan Indonesia Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun merupakan perwujudan amanat pembukaan UUD 1945 dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 31 UUD 1945 pun juga menyatakan (1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran dan (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang.  Sejatinya peran dari Sekolah Dasar (SD) merupakan jantung pendidikan di negeri ini.   Jika seluruh SD di Indonesia telah ter- cover secara menyeluruh, maka dapat dipastikan pendidikan di Indonesia pada jenjang-jenjang yang lebih tingginya pun akan terkelola dengan baik.   Berbicara tentang ter- cover nya Sekolah Dasar, tentu tidak sebatas pada permasalahan kuantitas dan infrastruktur yang dimilikinya. Masalah yang paling mendasar adalah bagaimana peran Sekolah Dasar sebagai tonggak awal pembentukan karakter para generasi-generasi pemegang estafet kemerdekaan Indonesia....

Berpaling, Menjauh, dan Meninggalkan

Mengungkap kisah sebuah impian memang tak pernah sederhana. Terkadang berjuang melakukan dan mengejar bukanlah menjadi hal terberat dalam mendulang impian. Makna dalam setiap proses perjalanan tak selamanya sebatas perkara memperjuangkan. Meninggalkan , terkadang memiliki makna yang tak dapat didiskripsikan. Ketika matamu mampu untuk menatap tajam, dan tanganmu masih mampu untuk mengambil dan merengkuhnya, terkadang tapak kaki harus ikhlas meninggalkan sebelum engkau sempat menyentuhnya. Bukan perkara mampu dan tidak mampu. Bukan pula perkara adanya kesempatan dan peluang. Namun terkadang sebuah pilihan menjadi alasan untuk perpaling, menjauh, dan meninggalkan. Semakin jauh, hingga titik yang sejatinya tampak di depan mata beranjak samar dan tak lagi terlihat. Semakin jauh, hingga mendekat pada titik lain yang perlahan semakin tampak. Walau banyak cahaya berpendar, namun apadaya ketika kemampuan menangkap hanya mampu untuk satu pelukan. Ketika memilih sebuah piliha...