Skip to main content

Posts

Ngabuburit #24: Allah, Aku Tak Sanggup MencintaiMu

Oh Allah…. Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu, Kajian demi kajian tarbiyah kupelajari, Tentang cinta para nabi, Tentang kasih para sahabat, Tentang mahabbah orang shalih, Tentang kerinduan para syuhada. Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam, kutumbuhkan dalam jiwa yang akan selalu haus akan kasihMu Tapi Allah… Berbilang hari demi hari dan kemudian tahun berlalu, ku masih juga tak menemukan, cinta tertinggi untuk-Mu, aku makin merasakan gelisahku memadai, dalam cita yang mengawang, sedang kakiku mengambang, hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan. Allahu Rahiim…. Illahi Rabbii…. perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku…. Perkenankanlah aku mencintai-Mu, sebisaku…. Dengan segala kelemahanku…. Illahi…. aku tak sanggup mencintai-Mu, dengan kesabaran menanggung derita. umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al-Mustafa. Karena itu ijinkan aku mencintai-Mu, melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu, atas derita batin dan ragaku, atas sa...

Ngabuburit #17: Menjadi Hafidzah adalah Proyek Hidup

Dan untuk kesekian kalinya, kembali Allah ketuk segumpal daging dalam dada ini dengan caraNya yang begitu manis.  Melalui sebuah program di sebuah stasiun TV, sering kali diri ini dibuat malu oleh para bocah kecil. Sekelompok hafidz / hafidzah cilik yang menginspirasi dan menjadi penegur untuk para dewasa yang kerap lalai ini. Seperti halnya dari si kecil Musa La Ode, anak Indonesia yang belum bisa berbahasa arab namun sungguh sempurna melafalkan hafalan Qur'annya pada Musabaqah Hifzil Qur'an di Sharm El-Sheikh, Mesir, 14 April 2016 silam.  Bocah kecil yang membuat tak satupun pasang mata tak berdecak kagum. Yang membuat para Syeikh dan Imam besar disana mencium kening si kecil sebagai bentuk takdzimnya pada si hafidz kecil itu. Atau dari Ahmad Hadi Ismatudzakwan (Aza), seorang hafidz cilik asal Bandung yang selalu ceria dan hadir dengan khas karakternya sebagai anak kecil, namun begitu tenang dan khusyu' setiap kali ia membacakan ayat suci Al-Qur'an pada...

Ngabuburit #10: Andai Kamu Tau

Kita, adalah manusia yang sering lupa.  Bahwa tak selamanya hikmah datang di awal pagi. Bisa saja, ia baru akan hadir bersama senja di waktu sore, atau justru dipenghujung malam di penutup hari.  Bahkan pula, bisa jadi ia baru akan datang esok hari, lusa, pekan depan, bulan depan, atau entah suatu hari nanti.  Namun yang pasti, ia tak pernah mengingkari janji. Suatu saat, pasti! Namun lagi-lagi, kita adalah manusia, yang seringnya kehilangan sabar dalam menghimpun hikmah yang belum sempat tersingkap dalam ketertolakan kita. Padahal seharusnya kita sudah banyak belajar. Pada setiap kisah baik yang telah menjadi takdir kita hari ini.  Pada ribuan kisah yang dahulu sempat begitu kita benci, yang nyatanya justru menjadi episode terbaik dalam perjalanan kali ini. Terkadang (atau bahkan sering), kita hanya mendefinisikan kesempurnaan pada batasan diri kita sendiri. Menganggap semua yang kita harapkan adalah yang terbaik untuk diri kita.  ...

Ngabuburit #9: Tentang Pernikahan

Tulisan kali ini, mungkin akan memiliki genre yang berbeda dari biasanya. Sedikit serius, sedikit mikir. Berawal dari chat curhatan salah seorang adik BEM ku yang sedang dilema karna mendapat chat yg cukup serius dari MR nya. Bahwa beberapa hari yang lalu ada seorang ikhwan yang menanyakan kesiapaannya untuk memulai sebuah ta'aruf. Tentunya, ini menjadi sebuah pertanyaan yang amat sangat sulit baginya. Karena di usianya saat ini, ia masih merasa terlalu muda untuk berada pada fase tersebut. Masih banyak yang harus diselesaikan, masih banyak yg belum dipersiapkan. Sebab baginya, menikah bukanlah perkara yang remeh. Disatu sisi yang lain, salah satu group WA ku pun juga sempat ramai dengan candaan perkara pernikahan. Guyonan nikah muda, panitia pernikahan, dan hahahihi lainnya mengenai pernikahan menjadi topik  yang cukup menarik sehingga mampu menghidupkan group yang sudah cukup lama sepi menjadi ramai kembali. Terlepas dari kedua hal tersebut, saya pun sudah lama menyi...

Ngabuburit #8: Tadzkiroh

Memang seperti itu dakwah.  Dakwah adalah cinta.  Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai fikiranmu.  Sampai perhatianmu, berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di saat lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai. Lagi-lagi memang seperti itu dakwah. Menyedot kekuatan pada diri.  Hingga tulang belulangmu, daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu.  Tubuh yang luluh diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Baginda memang akan tua juga. Namun kepalanya beruban kerana beban berat dari ayat yg diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Beliau memimpin hanya sebentar. Namun kaum muslimin sangat terkesan dengannya. Tidak ada lagi orang miskin yang boleh diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sukar membayangkan sekeras apa seorang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai gugur. Hany...

Ngabuburit #7: Pulanglah. Memangnya Kau Tidak Rindu (?)

Kita telah begitu jauh menempuh perjalanan.  Sebuah perjalanan untuk menuju siapapun juga apapun.  Perjalanan panjang yang selalu membelajarkanmu atas berbagai macam batasan rasa. Dalam sebuah perjalanan, kau pernah berkali-kali jatuh.  Berkali-kali tergores luka, juga meredam tangis.  Namun hebatnya, berkali-kali pula berhasil membuatmu bangkit lagi dan lagi.  Pada setiap jatuh bangun, tangis tawa, juga pupus tumbuhnya asa, ada cinta yang selalu membersaimu.  Yang memberikanmu kekuatan untuk bertahan sampai batas usia saat ini.  Yang tak pernah melupakanmu, bahkan meninggalkanmu.  Tidak pernah. Tidak akan pernah. Perjalananmu sudah cukup lama.  Telah meninggalkan ribuan dentum waktu bergulir terabaikan begitu saja.  Hingga akhirnya engkau lupa.  Hingga akhirnya, kata "pulang" hanya akan menjadi kata yang asing untuk diperdengarkan. Namun beruntungnya engakau.  Betapa engaku amat dicintai oleh sebaik-baik pemil...

Ngabuburit #6: Mengetuk Pintu Hati

Bahwa setiap hati memiliki alasannya masing-masing agar ia terketuk. Pun juga memiliki caranya masing-masing agar ia dapat tersentuh. Sebab hatilah yang membuat manusia begitu kompleks dan berbeda satu sama lain. Maka, cara menasehati satu orang dengan orang lain pun tentu tidak bisa disamakan.  Tidak semua orang seperti Abu Bakar, yang ketika disampaikan wahyu, berimanlah ia pada saat itu juga. Tidak semua orang seperti Umar, yang ketika dilantunkan ayat suci Al-Quran, seketika hatinya terdamaikan. Terkadang, hati seseorang baru bisa tersentuh setelah ia melakukan perjalanan panjang. Layaknya Salman Al-Farisi yang terlebih dahulu harus menempuh perjalanan begitu panjang. Bertandang dari orang satu ke orang yang lain, dari tanah rantau satu ke tanah rantau lain. Atau bahkan bisa jadi pula ada yg harus lebih lama dan lebih panjang lagi  perjalanannya, agar ia mampu membuka pintu hatinya. Seperti halnya saat kita hendak memasuki sebuah rumah. Sudah seh...